Sri Utami

"KIPRAH MOTHERCARE TAMBAKROMO "PD SRI UTAMI

Tahun 2018 adalah tahun politik bagi Jawa Timur, menjelang tahun politik untuk pilpres tahun 2019. Hampir sepanjang tahun 2018 semua yang terlibat dalam pilkada sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari tingkat provinsi sampai desa. Begitu juga di Desa Tambakromo, sebagai panitia pilkada tingkat juga super sibuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan sewaktu  hari H yang diselenggarakan tanggal 27 Juni 2018. Namanya Sri Utami, dia sebagai salah satu panitia desa (KPPS) untuk menangani pelaksanaan pilkada Jawa Timur di desanya Tambakromo. Sri Utami sudah berkeluarga dengan seorang anak perempuan yang saat ini sudah kelas 1 SMP. Dia sejak lahir tinggal di desa Tambakromo, dan sampai menikahpun dengan tetangganya sendiri. Usianya saat ini sudah 36 tahun, pendidikan terakhir D-III Rekam Medik di salah satu universitas di Solo.

Namun sebenarnya aktivitasnya tidak hanya sebagai panitia saja, dia juga sebagai KPMD dan juga pendamping desa ex-PNPM. Kesibukannya luar biasa meskipun hanya tingkat desa, tetapi hampir sebagian waktunya untuk aktifitasnya tersebut. Dilihat dari pendidikan  yang telah dijalaninya, Sri Utami adalah seorang ahli rekam medik, karena disitulah dia mengenyam pendidikan terakhirnya (D-III). Ia pernah bekerja di rumah sakit Pertamina Cepu selama 4 tahun, kemudian keluar karena merasa itu bukan dunianya. Pendidikan yang  dulu diambilnya sebenarnya bukan pilihannya, tetapi keinginan orang tua yang ingin anaknya cepat bekerja, sehingga Sri Utami ikut saja saran orang tua. Ia juga pernah bekerja di rumah sakit umum Ngawi selama 1 tahun, dan akhirnya keluar juga.

Akhirnya tahun 2009, ia ikut program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat miskin yang diluncurkan di jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sri Utami mendaftar dan diterima sebagai pendamping PNPM sampai sekarang yang berganti nama Ex-PNPM. Ketika ditanya mengapa profesi yang sekarang ditekuni tidak sesuai dengan bidang ilmu yang diambilnya, dia menjawab, “Saya merasa itu bukan dunia saya, saya merasa nyaman dan enjoy menjalani sebagai pendamping masyarakat. Meski semua tahu ini bukan tujuan untuk menjadi kaya, karena gajinya tidak sebesar saya di rumah sakit dulu,” jawabnya dengan tersenyum. “Setiap hari berganti orang dengan segala permasalahannya, dan bagaimana menghadapi perilaku dari kehidupan nyata di masyarakat itu yang menjadi sangat nikmat bagi saya,” timpalnya kemudian.

Ada pengalaman yang sangat berkesan dan membekas di benaknya sebagai pendamping masyarakat program PNPM, yaitu ketika didemo oleh warga dusun yang menuntut dusunnya segera dibangun fisiknya (pavingisasi) karena dusun lain sudah dibangun. Antara keinginan warga dan jadwal pelaksanaan proyek tidak sinkron, karena warga ingin segera sementara proyek harus sesuai jadwal yang sudah disepakati dan menjadi aturan. Dengan segala kemampuannya ia berusaha berdialog dengan warga yang sudah tidak sabar dan tidak tahu akan rencana proyek tersebut. Tetapi akhirnya dapat dipahamkan dan warga bisa menerima penjelasannya.

Saat ini Ex-PNPM masih jalan dan terbatas pada program simpan pinjam saja, karena mengawal uang yang sudah beredar di masyarakat sehingga bisa berkembang dan lebih bermanfaat untuk desa di masa masa mendatang. Ada kejadian unik juga mengenai hal ini, karena pernah Sri Utami menagih angsuran yang macet kepada warga yang membandel, sebesar kurang lebih Rp 15 jutaan, bersama perangkat desa, Babinsa, polisi juga ada tetapi orang tersebut tidak berkenan membuka pintu rumahnya. Hampir seharian ditunggu, akhirnya dibuka oleh anaknya, dan orang tersebut sudah pergi lewat pintu belakang. Suatu pekerjaan yang berat bagi sebagaian orang sebagai pendamping masyarakat. Karena yang dihadapi adalah manusia dengan segala perilaku uniknya dan bermacam macam karakter mereka.

Pada tahun 2014, Sri Utami juga bergabung dengan Program Jalin Matra Program Feminisasi Kemiskinan Jatim sebagai supervisi kecamatan, sehingga dia tidak asing lagi dengan PFK ini. Dan tahun ini Sri Utami kembali terlibat di program PFK sebagai Pendamping Desa (Mothercare) Desa Tambakromo. Hal ini menjadi pertimbangan dikarenakan Sri Utami sudah mengenal hampir seluruh masyarakat desa Tambaromo sebagai pendamping PNPM dan juga sudah paham program PFK sebelumnya. Itulah berbagai aktifitas kesibukannya yang banyak menyita waktunya selain sebagai ibu rumah tangga.

Tinggalkan sebuah Komentar