SUTARTIK

TAMPANG DESA, SEMANGAT KOTA

Bagi sebagian orang kehidupan di desa identik dengan kehidupan yang kuno, terbelakang, tingkat pendidikan rendah dan tentu saja penampilan orangnya katrok dll. Selain dari urusan penampilan kehidupan di desa juga di anggap sebagai kehidupan yang tidak mementingkan tingkat pendidikan yang tinggi. Hal paling utama bagi kaum laki-laki di desa bisa bekerja dan menghasilkan uang sudah cukup sebagai modal menjadi suami, bagi kaum perempuan yang penting bisa mengaji, mencuci, memasak nasi serta tahu hukum-hukum bersuci sudah dianggap mampu untuk menjadi seorang isteri, sederhana sekali bukan??

Tapi anggapan seperti itu tidak semua benar, hal itu dibuktikan oleh seorang perempuan bernama SUTARTIK, ibu beranak dua berumur 34 tahun ini membuktikan bahwa menjadi perempuan yang hidup di desa terpencil tidak selamanya terbelakang, ibu muda yang tinggal di desa dusun dampol, desa paopale daya, kecamatan ketapang ini menjadi pendamping desa dalam kegiatan Jalin Matra Feminisasi Kemiskinan tahun 2017. Bagi sutartik menjadi pendamping desa bukan berarti soal bekerja dan mendapat honor, tapi hal itu sebagi bukti bahwa tampang boleh desa tapi semangat harus kota, menjadi pendamping berarti belajar bertanggung jawab, belajar berkomunikasi dengan berbagai karakter masyarakat yang menjadi penerima program serta belajar memahami kebutuhan riil RTS.

Dipercaya sebagai pendamping desa membuat sutartik lebih aktif dalam menjalankan aktivitasnya karena sebagai ibu rumah tangga, kewajiban melayani suami dan merawat anak-anak sudah ia lakukan sebagai aktivitas sehari-hari. Sutartik mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan kepadanya, sebagai perempuan lulusan sekolah dasar (SD) sutartik mengaku butuh adaptasi dengan pekerjaanya sebagai pendamping desa, di awali dengan rasa minder karena menganggap dirinya tidak sepintar perempuan lain seusianya, namun pelan tapi pasti sutartik mampu menjawab kepercayaan itu dengan kinerja yang memuaskan, sejak awal kegiatan jalin matra beliau aktif dalam mendampingi RTS, dari kegiatan pra rembug warga, rembug warga sampai dengan kegiatan identifikasi RTS ia lakukan dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai pendamping yang semua RTS dampingannya meminta ternak, sutartik mengaku tidak begitu kesulitan dalam mengawal RTS mengingat di desa paopale daya sumber daya untuk merawat ternak tidak begitu sulit, ia berjanji meskipun program ini telah usai ia tetap akan mendampingi RTS dalam merawat dan memanfaatkan ternaknya agar bantuan ini bisa betul-betul bermanfaat bagi kemajuan dan peningkatan ekonomi RTS.

Tinggalkan sebuah Komentar